tentang wanita indonesia
info kesehatan wanita
 
  KUESIONER ALUMNI & STAKEHOLDER  
Arloji : Antologi Puisi Sapardi Djoko Damono
2012-01-09, by Drs. Wiranta, MS.
 

Agak berbeda dengan tiga kumpulan sajak Sapardi Djoko Damono yang lain: DukaMu  Abadi diterbitkan penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, (1975), Mata Pisau diterbitkan penerbit Balai Pustaka, Jakarta, (1982),  Perahu Kertas diterbitkan penerbit Balai Pustaka, Jakarta (1983), kumpulan sajak  Arloji diterbitkan oleh penerbit khusus yakni Yayasan Puisi, Jakarta, 1998. Namun yang menarik sajak-sajak yang terkumpul dalam kumpulan Arloji (ditulis antara tahun 1993 dan 1998) kebanyakan sudah pernah dimuat dan disiarkan di media massa antara lain: Basis, Kalam, Media Indonesia dan Rupublika. Dengan kumpulan sajak Arloji ini semakin jelas bahwa Sapardi juga  kepekaan juga terhadap hal-hal yang bernuansa sosial, membumi dan profan.

Dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984,  Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa ia memang senang dengan tema ketuhanan dan kematian karena ia takut mati. Ia mengaku tidak mengelak dari tema sosial, tetapi cuma tema manusia dan tentang manusia (dan hubungannya dengan ketuhanan dan kematian) yang dianggapnya lebih abadi (1984: 150-151).

Pernyataan Sapardi tersebut tentu menarik perhatian bila dikaitkan dengan pernyataan Jakob Sumardjo yang mengatakan, bahwa pada Sapardi Djoko Damono, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan. Bersama  kehidupan itu pulalah maut tumbuh (1984). Demikianlah, Sapardi Djoko Damono telah membuktikan diri sebagai seorang penyair Indonesiamodern yang memiliki obsesi yang cukup intens terhadap tema-tema ketuhanan dan kematian dalam sajak-sajak yang diciptakan selama ini.

 



Cari Artikel
Hanya mencari di fs.uns.ac.id
 









 
 

© Copyright 2013 Fakultas Sastra dan Seni Rupa
All Rights Reserved by ICT FSSR.